Catatan Harian
Ibunda Hj. Siti Fatimah · Apr 25, 04:18 AM
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Rabu, 23 April 2008 pk.15.30 WIB ibunda saya, Hj. Siti Fatimah binti Hj. Muhammad Anwar berpulang ke rahmatullah pada usia 88 tahun setelah dirawat beberapa waktu di RS Graha Medika Bandarlampung. Beliau meninggalkan 9 orang putra-putri, 15 cucu, 21 cicit. Setelah disemayamkan semalam di kediaman saya di Kalibalok Bandarlampung, jenazah diberangkatkan untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Kampung Terbanggi Besar Lampung Tengah, tempat beliau dilahirkan. Melalui kesempatan ini, atas nama keluarga besar Sepulau Raya perkenankan saya menyampaikan terima kasih pada seluruh masyarakat, sanak famili, jiran tetangga, kolega dan rekanan, atas perhatian dan doa yang diberikan sejak sakitnya hingga pemakaman ini. Selama hidup beliau pastilah ada kekhilafan, kesalahan, baik langsung maupun tidak, disengaja maupun tidak, perkataan maupun perbuatan. Untuk itu saya mohonkan kita semua untuk mengikhlaskan seikhlas-ikhlasnya.
Almarhumah telah melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dalam peran sebagai istri bagi suaminya dan sebagai ibu bagi anak-anaknya, termasuk ibu bagi putra-putri tirinya. Jarang saya melihat ibunda melakukan kegiatan di luar rumah. Shalat dan ibadahnya yang tak putus memberikan kepada kami putra putrinya bimbingan kekuatan rohani untuk menapaki hidup dengan benar.
Ketika kami telah berhasil menata kehidupan secara lahiriah, maka melalui penglihatan dan pendengaran beliau, kami diingatkan untuk selalu menunaikan kewajiban sosial kepada sanak keluarga, jiran tetangga, dan anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Melalui hati beliau kami diikat untuk selalu menjalin dan menjaga silaturahmi.
Kini ia telah tiada, menyusul suaminya, ayahanda saya Hi. Ibrahim Sepulau Raya gelar Suttan Andy Suttan Asli Suttan bin Hi. Achmad Bernawi, yang telah mendahuluinya pada 14 Agustus 2001 silam. Ayah ibu kami kini bersama kembali. Jasadnya dikubur berdampingan. Tapi saya memiliki keyakinan bahwa mereka berdua tidaklah mati, hanya jasadnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: Maka janganlah kamu berkata bahwa orang yang bersabilillah itu mati, tidak, mereka tidak mati, tetapi kamu tak bisa melihatnya.
Bersabilillah adalah berjuang di jalan Allah. Kewajiban membesarkan dan mendidik anak-anak adalah fisabillah yang paling utama dan paling berat terutama bagi seorang ibu. Proses itu berlangsung bahkan ketika embrio belum utuh terbentuk di dalam rahim. Kita menyebutnya rahim. Kasih sayang. Ya, hanya dengan kasih sayang Allah, satu nutfah (sel sperma) dari ayah dan satu sel telur dari ibu dapat bertemu, melebur, dan terus membelah, berdiferensiasi hingga membentuk mudgah (darah segumpal), alaqah (daging segumpal), hingga akhirnya lengkap dan sempurna. Setelah 9 bulan 10 hari, seandainya lahir ke muka bumi, maka siapakah dia, siapakah aku?
Perjuangan itu terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin si anak. Tak kenal waktu tak kenal tempat. Melahirkan, membesarkan, dan mendidik apalagi 9 orang anak, sungguh bukan pekerjaan yang sederhana. Bahkan pekerjaan sebagai bupati pun masih jauh untuk dapat dibandingkan.
Maka dapatkah saya membalas semua perjuangan kedua orang tua saya itu? Rasanya tidak mungkin. Yang paling mungkin saya lakukan adalah melakukan dengan sungguh-sungguh kewajiban yang sama kepada anak-anak saya, sanak keluarga saya, dan orang-orang yang menjadi tanggungjawab saya, sesuai dengan kemampuan saya. Saya yakin ayahanda dan ibunda saya tak berharap balas apapun atas semua yang telah mereka lakukan bagi putra-putrinya, karena semua dilakukan berlandaskan pada keyakinan atas kewajiban yang mereka emban: khalifah, wakil Allah di muka bumi.
“Wa idzqolaa robbuka lil malaikati inni ja’ilun fil ardhi khalifah: dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: Aku akan menciptakan manusia di muka bumi sebagai khalifah”.
Ya, kita semua adalah khalifah Allah, utusan Allah, wakil Allah, sebagai penguasa. Apakah penguasa itu? Penguasa bukan presiden, bukan gubernur, bukan bupati, polisi, jaksa atau apapun. Itu hanya jabatan pekerjaan. Penguasa hakiki adalah orang yang mampu berbuat adil dan bijaksana. Pertama-tama dan yang utama adalah berbuat adil dan bijaksana kepada diri sendiri kemudian kepada orang lain dan mahluk Allah yang lain.
Jika kita menyadari keberadaan diri kita di muka bumi ini, niscaya kita akan senantiasa berhati-hati dan waspada kepada perbuatan kita sendiri. Semua yang ada dan kita miliki hanya pinjaman yang berasal dari Allah, dan semuanya, termasuk ruh kita sendiri akan dikembalikan kepada Sang Pemilik Jagad Raya: Allah SWT. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Komentar
« sebelumnya selanjutnya »
Kritik dan saran alamatkan ke:



Isi website ini terkecuali komentar dan/atau buku tamu yang ada adalah tanggung jawab sepenuhnya dari Andy Achmad Sampurna Jaya. Koleksi gambar pribadi yang ada dalam domain andyachmad.com adalah hak cipta dan sepenuhnya milik Andy Achmad Sampurna Jaya. Dilarang keras menggunakan gambar pribadi yang ada dalam website ini tanpa izin tertulis dari Andy Achmad Sampurna Jaya dan segala bentuk pelanggaran akan ditidak lanjuti sesuai dengan hukum dan perundangan yang berlaku di Indonesia.
Kami turut berduka cita, semoga amal ibadah umi diterima oleh Allah SWT, dan kita yg ditinggalkan mendapat kekuatan..
— Indra Gunawan · Apr 25, 12:28 PM · #