HomeArsipKontak

Catatan Harian

Ayunda Ratnawati binti H.M. Syarif · Apr 28, 09:13 AM

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Dua hari setelah kepergian Ibunda saya Hj. Siti Fatimah binti Hj. Muhammad Anwar, tanggal 23 April 2008 yang lalu, keluarga besar kami kembali kehilangan. Ayunda Ratnawati binti H.M. Syarif, kakak istri saya meninggal dunia Minggu, 27 April 2008 pk.10.10 WIB pada usia menjelang 59 tahun setelah dirawat beberapa waktu di RS Graha Medika Bandarlampung. Ia masuk rumah sakit hampir bersamaan dengan ibunda saya dan dirawat di ruang yang berdampingan. Ketika meninggal ibunda saya berumur 88 tahun, dan kakak ipar saya 59 tahun. Ya, jarang sekali ada orang yang tahu berapa jatah umurnya. Ia meninggalkan suami, Munzil Puspa Wijaya, dan 2 putri, Mirawati Munzil Puspa Wijaya (25) dan Lidyawati Munzil Puspawijaya (21). Setelah disholatkan di masjid persis sebelah kediamannya di Jl. Way Kanan No. 12 Pahoman Bandarlampung, jenazah wanita kelahiran 17 Agustus 1949 itu dikebumikan di kampung halamannya, Terbanggi Besar.

Suami dan kedua putrinya saya lihat tabah dan tegar menghadapi musibah ini. Kesedihan hanya terlihat di mata-mata yang sembab. Sang adik yang alumni Fakultas Ekonomi Unila duduk terpekur saling bertukar duka dengan kakaknya, mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Unila, di depan jenazah ibunda mereka. Kewajiban khifayah dalam pengurusan jenazah di Kampung Pahoman ini segera terlihat. Pemasangan tenda, penyediaan bunga tabur, penyiapan perangkat untuk memandikan dan mengkafani jenazah langsung berjalan tanpa banyak diskusi, tanpa membebani ahlu musibah. Begitulah jika kebersamaan mengikat kita dalam sebuah kebutuhan, tidak hanya ketika gembira tetapi juga ketika duka.

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Hikmah apa yang harus kita ambil dari kejadian ini? Bagi yang (akan) meninggal, Allah merahasiakan kapan, di mana dan bagaimana seseorang akan meninggal, sebagai isyarat agar kita selalu siap sedia bila waktunya tiba. Bagi yang ditinggalkan, kematian adalah ujian atas kesabaran. Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta benda, dan kematian. Maka berilah kabar kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berucap sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Tetapi sesungguhnya kesabaran dan ucapan innalillahi wa inna illaihi rajiun diperlukan tidak hanya ketika kita menerima musibah saja. Bahkan ketika kita menerima berkah dan rezeki yang banyakpun seharusnya kita tetap bersabar. Sabar dalam membelanjakan rezeki di jalan Allah, sabar atas berkah atau kebahagiaan itu. Allah menguji manusia dengan kesenangan dan kesusahan. Orang yang ma’rifat kepada apapun yang dia terima pasti sadar sepenuhnya bahwa semua berasal dari Allah dan akan dikembalikan (pertanggungjawabannya) kepada Allah. Ia pasti sadar sesadar-sadarnya semua itu hanya pinjaman yang dapat diambil sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan, karenanya semua itu tak pantas untuk membuat ia menjadi sombong. Maka nik’mat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Rumah sederhana di Kampung Pahoman yang tenang ini telah menjadi tempat selama bertahun-tahun bagi kakak ipar saya ini melewatkan hidupnya. Semoga kesederhanaanya dalam melakoni hidup akan membuat kampung akhirat yang kini dihuninya memberinya ketenangan abadi. Ia tak mati, hanya jasadnya.

Commenting is closed for this article.