HomeArsipKontak

Catatan Harian

Minal Aidin Wal Faizin · Sep 30, 06:57 PM

Ramadhan 1429 H, bulan penuh berkah yang merupakan ajang pelatihan lahir batin selama 30 hari telah usai. Usai pulakah puasa dan perjuangan kita? Kembalikah kita pada fitrah kita? Fitrah yang sesungguhnya tidak terletak pada zakat yang kita bayarkan menjelang shalat Ied. Fitrah yang sesungguhnya adalah jika kita mengenali jati diri kita: khalifah Allah yang diutus ke muka bumi untuk berbuat adil dan bijaksana dengan menjalankan fungsi-fungsi ketuhanan. Berbuat adil dan bijaksana bagi dirinya sendiri dan bagi mahluk Allah lainnya. Tanpa mengenali hakikat jadi diri itu, maka tak ada guna semua amal perbuatan yang kita lakukan. Khalifah yang hakiki tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi selalu mendahulukan kepentingan orang dan mahluk lain. Ia tidak kuatir akan dirinya karena yakin Allah selalu bersamanya dan yakin Allah menjaminnya.

Agar manusia mau berlatih sungguh-sungguh, Allah janjikan pahala puasa yang berlipat ganda sepanjang Ramadhan yang jika meminjam istilah ilmu marketing disebut double bonus, triple bonus, bahkan multiple bonus. Jadilah Ramadhan menjadi bulan suci, bulan yang penuh berkah. Allah Maha Menepati Janji.

Pertanyaannya: apakah hanya karena janji-janji Allah itu kita berpuasa? Apakah jika tidak diberi janji seperti itu kita akan tetap puasa pada bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan?

Ada 7 sifat Allah yang menzhahir pada manusia. Dengan sifat itu manusia mampu berkata-kata, mampu memandang, mampu mendengar, menggunakan akal fikir, mampu menggunakan rasa, dan melakukan perbuatan. Ketujuh sifat itu menimbulkan aktivitas sepanjang hidup. Manusia yang memahami hakikat dirinya, akan selalu menjaga ketujuh sifat yang melekat pada dirinya itu agar selalu suci. Ia akan berpuasa sepanjang hidupnya.

Puasa sesungguhnya bukan sekedar menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menggugurkan puasa seperti tidak makan dan tidak minum sejak fajar hingga terbenam matahari. Puasa sesungguhnya adalah puasa 7 sifat melalui 7 anggota badan:
1. Puasakan dan sucikan lidahmu dari ucapan yang Allah tidak ridha.
2. Puasakan dan sucikan matamu dari melihat hal yang Allah tidak ridha.
3. Puasakan dan sucikan telingamu dari mendengar hal yang Allah tidak ridha.
4. Puasakan dan sucikan tindakan mu dari melakukan hal yang Allah tidak ridha.
5. Puasakan dan sucikan langkahmu dari melakukan hal yang Allah tidak ridha.
6. Puasakan dan sucikan fikirmu dari memikirkan hal yang Allah tidak ridha.
7. Puasakan dan sucikan hatimu prasangka-prasangka yang Allah tidak ridha.

Puasa adalah menahan diri dan mensucikan ketujuh sifat yang melekat pada diri dari berbuat hal-hal yang Allah tidak ridha. Ini berarti puasa yang sesungguhnya tidak dibatasi oleh terbit fajar dan terbenamnya matahari, tidak gugur oleh makan atau minum. Puasa yang sesungguhnya adalah puasa sepanjang hayat, hingga akhir hayat, untuk selalu berjuang menjaga kesucian 7 sifat yang melekat.

Karena itu 11 bulan setelah Ramadhan penting dalam implementasi hakikat berpuasa. Jika seseorang berpuasa dengan sebenar-benarnya, pastilah Allah yang Maha Suci ridha kepadanya. Jika Allah ridha, jangankan pahala, apa saja yang dipinta akan dengan sendirinya diberikan. Hanya karena Allah ridha kepada perbuatan Ibrahim A.S. yang menghancurkan berhala-berhala buatan bapaknya, api yang disiapkan untuk membakarnya malah terasa dingin. Ketika Allah ridha, surga atau neraka menjadi tidak penting. Kenikmatan yang sebenarnya bukan di surga, tetapi ketika Allah ridha pada kita.

Puasa sungguh memberi pengaruh yang hebat, baik pada lahir terutama pada batin. Mahapatih Hamengku Bhumi Gajahmada takkan mampu menyatukan Nusantara pada abad ke-12 jika ia tak berpuasa. “Lamun huwus kalah Nusantara samana ingsun hamukti palapa: jika belum berhasil menyatukan nusantara dalam kekuasaan Majapahit selama itu aku akan berpuasa”. Itulah Sumpah Amukti Palapa dan terbukti, Majapahit jaya di bawah Pemerintahan Raja Hayamwuruk. Kisah itu tercatat dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Sidharta Gautama mampu mencapai derajat Sang Budha hanya karena ia berpuasa seumur hidup hingga mendapat pencerahan jiwa sebelum turunnya Islam. Seekor ulat yang menjijikkan bagi kebanyakan orang mampu menjadi kupu-kupu yang indah hanya jika ia berpuasa ± 7 hari. Induk ayam mampu menetaskan telurnya hanya jika ia berpuasa selama 21 hari mengerami telur-telurnya. Lalu bagaimana dengan puasa kita?

Akhirnya, perkenankan saya atas nama pribadi dan keluarga serta seluruh tim AAC mengucapkan selamat Hari Raya Iedul Fitri 1429 H mohon maaf lahir dan batin atas semua khilaf, alpa, lupa, dan salah ucap dan perbuatan. Tak ada gading yang tak retak, kalau tak retak bukan lah gading. Semoga puasa dan perjuangan kita tak berhenti hanya sebatas Ramadhan.

Salam,

Andy Achmad Sampurna Jaya

Commenting is closed for this article.