HomeArsipKontak

Berita Terbaru

Yenny Wahid, Sang Putri Mahkota · Apr 22, 08:34 AM

Kehadirannya di Tanah Padangratu Lampung Tengah bukan dalam rangkaian safari politik, tetapi acara keagamaan yaitu Haul Akbar Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ke 868. Pondok Pesantren Roudlotussholihin yang berlokasi di Pekon Purwosari menjadi saksi betapa karomah sufi Negeri Bagdad di abad ke 11 itu begitu kuat menarik puluhan ribu orang, tua muda pria wanita, dari berbagai pelosok Lampung bahkan dari Bengkulu, Riau, dan Medan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW saja tidak seramai ini. Jalan dan lapangan berdebu disesaki ratusan kendaraan roda 2, roda 4, truk terbuka maupun bus angkutan. Beberapa bus AKAP berjajar menanti penumpangnya yang sedang berkumpul di masjid dan halaman pesantren: mengaji. Seirama dengan berkumpulnya jamaah, sejumlah warung tenda dan cindera mata digelar warga setempat. Terlihat pula beberapa waria bergabung dalam kerumunan massa itu. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana reaksi Syeikh Al Jailani jika mengetahui respons ummat seperti ini, 868 tahun setelah ia wafat. Konon di kala hidupnya pengajian yang diadakannya disesaki pula oleh puluhan ribu jamaah.

Pukul 21.00 rombongan itu memasuki halaman yang penuh sesak. Semua mata menatap wanita berkerudung hijau yang berjalan hati-hati di tengah kerumunan jamaah setelah disibak oleh pengawal. Zannuba Ariffah Chafsoh, lebih dikenal sebagai Yenny Wahid. Ia datang dari seberang laut, putri kedua tokoh kontroversial Nahdlatul Ulama dan Ketua Dewan Syuro PKB, KH Abdurahman Wahid, yang juga mantan Presiden RI ke empat itu. Lebih dari sekedar putri Gus Dur, ia juga Sekjen PKB. Ia telah menjadi tokoh nasional, lebih mudah dilihat di layar kaca, maka melihatnya secara langsung bagi sebagian yang hadir adalah kesempatan langka. Menyusul kemudian Hi. Andy Achmad Sampoerna Jaya, Bupati Lampung Tengah yang menyambut Yenny di Bandara Branti dan mendampinginya dalam perjalanan menuju lokasi haul. Kemudian menyusul Bambang Sudibyo SH cawagub dari Partai Golkar. Joko Umarsono SH dalam kapasitas mewakili Gubernur Lampung yang berhalangan, telah datang lebih awal. Dari DPP PKB hadir salah seorang ketuanya, G. Zaim Affandi. Sementara sahibul hajat KH Jamaludin al Bustomi, dan KH Miftahudin al Bustomi didampingi kyai sepuh dari pompes ini.

Setelah kumandang shalawat dan sambutan tuan rumah, Kanjeng dapat giliran pertama mewakili masyarakat Lampung Tengah menyambut para tetamu jauh. Suara parau karena kelelahan dari perjalanan dan kesibukan yang luar biasa padat. Tak banyak yang disampaikan Kanjeng kecuali harapan agar haul akbar dan perjuangan hidup sang sufi besar itu menjadi inspirasi bagi kita sekarang dalam menapaki kehidupan.

Berbeda dari beberapa tahun silam ketika sang ayah masih menduduki kuri RI-1, Yenny kini berdiri tanpa canggung di podium dengan suara lembut tetapi lantang memulai paparannya tentang 8 butir pola hidup bertarekat menurut aliran tarekat Qadiriah Naqsabandiyah. Sarjana Desain dan Komunikasi Visual Universitas Trisakti Jakarta ini terlihat sangat menguasai materi. Ketika pembicaraan beralih pada kondisi kehidupan berbangsa, ia mulai tunjukkan kapasitasnya. Kritiknya cukup pedas ketika mengatakan pemerintah saat ini pendek akal. Langkanya minyak goreng di negara produsen minyak goreng terbesar di dunia ini, langkanya minyak tanah sebagai kebutuhan pokok masyarakat, impor kedelai sebagai bahan baku makanan tradisional utama penyedia protein: tempe, debat kusir Wiranto–SBY tentang naik atau turunnya angka kemiskinan: meningkatnya dana APBN untuk gakin diikuti bertambahnya jumlah antrian warga memperoleh raskin, adalah beberapa hal yang disebutnya untuk mempertegas pendeknya akal pemerintah. “…Kemana dana-dana itu mengalir? Semua ini karena pemerintah tidak lagi memihak kepada rakyatnya. Tetapi saya setuju dengan pernyataan Pak SBY bahwa kemiskinan di Indonesia menurun. Ya, menurun…pada anak cucu…” ucapnya disambut gerr dan tepuk tangan. Beberapa kali paparan tanpa teks hampir satu jam dengan dialek Jawa timuran yang diselingi canda gurau khas NU itu mendapat aplaus.

Jika partainya solid, dan ia konsisten dengan sikapnya, tak mustahil satu saat Indonesia kembali dipimpin oleh presiden wanita. Jika ia mampu mengolah karomah Sang Sufi agung itu melalui tarekatnya dan mewujudkannya dalam program nyata bagi masyarakat, maka cicit Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari ini akan dipanuti oleh kalangan wong cilik yang selama ini hanya menjadi obyek klaim kepedulian yang akhirnya tidak dipedulikan.

Tak banyak yang tahu ia memiliki pengalaman sebagai jurnalis pada dua surat kabar terkemuka Australia: The Sydney Morning Herald dan The Age. Sebagai jurnalis, ia meliputi berita seputar konflik kemanusiaan dari Timor Timur hingga Aceh. Kisahnya pasca referendum Timor Timur memenangkan Walkley Award. Ia tumbuh di lingkungan santri dan kyai. Ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI, ia berhenti dari pekerjaannya untuk membantu sang ayah sebagai staf khusus urusan komunikasi. Praktis ia menjadi the right hand person sang presiden. Setelah sang bapak di-impeach MPR, ia pergi untuk meraih gelar master di Harvard Kennedy School of Government dengan beasiswa dari Mason Fellow. Tahun 2004, sepulangnya dari Boston, ia ditunjuk menjadi direktur sebuah yayasan yang baru dibentuk, Wahid Institute, sebagai penasehat komunikasi politik bagi Presiden Republik Indonesia 2005-2007, sebuah posisi yang tetap ditempatinya hingga kini. Semua pengalaman itu tentu menjadi bekal tersendiri yang belum tentu dimiliki calon pemimpin yang lain.

Saat ini ia masih putri mahkota di PKB, tapi siapa tahu. Majapahit kuno yang tak jauh dari Jombang itu pernah jaya dipimpin Sri Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani (1329-1350). Siapa tahu wanita berdarah Jombang ini akan mengulang sejarah. Wanita umumnya lebih sensitif dan peduli, asal saja tidak kebablasan menjadi rapuh dan cengeng. Indonesia kini tak hanya butuh orang kuat dan pandai, tetapi terlebih orang yang peduli. (erha)

Komentar

  1. Semoga NU dan PKB yang “sebenarnya” Mendukung terus perjuangan Kanjeng Andy – Mas Parjo

    — Imron Rosyadi · Aug 30, 02:57 AM · #

  2. apapun masalahnya semua tergantung pada niat tujuannya, sehingga kalau Allah berkehendak maka terjadilah. nah kalu sdh terjadi: Pertanggung jawabannya kepada YMKuasa.Kanjeng walau adinda jauh di Kalimantan. Hanya doa yg mendukungmu. Semoga ….

    — Aziz Helmi · Aug 31, 07:24 AM · #